“YA TUHAN, KEMANA LAGI KAMI AKAN BERLARI?”


Uli Adriani Simatupang (dok. Pribadi)

Mengisahkan kembali sebuah pengalaman traumatis, bukanlah perkara gampang. Pribadi yang mengalaminya lama bergulat dengan penggalan peristiwa kelam tersebut, lalu perlahan mengumpul serpihan harapan agar hidupnya tertata dan kembali pada jalan yang dikehendakinya.

Kira-kira begitulah kesan yang kutangkap kala bincang dengan saudari ini melalui dunia maya. Sejatinya, majalah Menjemaat hendak mendapat tulisan utuh dari bang Germano Manalu selaku kontributor. Pun, dia tengah meniatkan membuat kisah saudari ini — sebagai salah satu bagian — menjadi sebuah buku kala dia membuat riset di Aceh untuk skripsi.

Tetapi, karena satu dan dua hal, bang Germano mengaku kewalahan sebab ragam tugasnya sebagai guru. Dalam hati, aku juga sangat girang. Sejak pertama kali mendengar nukilan peristiwa gadis penyintas di tsunami Aceh, sungguh ingin menuliskan sendiri kisah tersebut.

Bisa dikatakan, hampir seluruh isi tulisan ini telah diutarakan langsung oleh saudari Uli. Aku hanya menyusun beberapa kata saja, agar utuh dan kuat sebagai satu cerita. Ketika tulisan ini rampung dan kukirim ke redaksi, terbersit saja sebuah tanya: Bagaimana bila kisah-kisah seperti ini banyak juga tercecer dan diabaikan di luar sana? Seperti kala erupsi Gunung Sinabung, dan lainnya.

Aku termangu saja.

***

Uli Adriani br. Simatupang adalah seorang penyintas ketika bencana Tsunami menghempas Aceh, pada Minggu (26/12/2004). Butuh waktu lama bagi Uli untuk mengingat dan menceritakan kembali serpihan peristiwa tragis yang nyaris merenggut nyawanya. Bukan hal yang mudah bagi wanita – yang kala itu masih berusia remaja. Tetapi, dalam kisahnya ini, putri sulung dari dari A.P.H. Simatupang dan Lasmauli br. Debataraja juga mengingatkan Iman dan penyerahan sepenuhnya pada perlindungan Ilahi. Berikut penuturannya kepada Menjemaat.

***

Masih memberkas di ingatan saya, peristiwa itu terjadi pada hari Minggu. Tanggal 26 Desember 2004. Saat itu saya masih siswa kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Banda Aceh. Usia saya kira-kira 15 tahun.

Bapak, Mama dan tiga adik saya (Dwina Simatupang, Tiara Simatupang, dan Qiqa Simatupang) telah berangkat bersama untuk turut dalam Misa Minggu pagi di Gereja Paroki Hati Kudus – Banda Aceh. Sementara saya sendiri masih tinggal di rumah. Sejak kemarin, saya telah berencana mengikuti ibadah Oikumene pada sore hari. Ini bukan tak disengaja, sebab keesokan harinya (Senin), saya akan menghadapi ujian semester di sekolah. Sehingga waktu senggang dari pagi hingga siang hari, bisa saya manfaatkan untuk merampungkan beberapa pekerjaan rumah dan mengulangi pelajaran.

Peristiwa tragis itu diawali oleh gempa yang kuat sekali. Menurutku, itu terjadi selang beberapa menit setelah Bapak, Mama dan adik-adik berangkat ke Gereja Paroki. Guncangan lindu tersebut amat kuat. Saya pun mendengar seperti suara permukaan tanah yg ditarik ke bawah. Saya pun lekas keluar dari rumah. Di lapangan voli depan rumah kami, para tetangga sekitar telah ramai berkerumun. Secara naluriah, kami semua segera berkumpul di lapangan voli.

Semakin lama goncangan gempa itu semakin kuat. Kami merasa bagaikan beras yang digoyang di atas ayak. Posisi badan saya saat itu berdiri, tak lama kaki saya pun tidak kuat bertahan di tengah goyangan gempa, hingga akhirnya jongkok. Kemudian terduduk di permukaan tanah.

Keadaan menjadi panik. Beberapa orang lalu menangis dan berdoa sesuai kepercayaannya masing-masing. Saya sendiri masih bengong, sembari menatap sekelilingku dengan nanar. Tampak rumah-rumah bergoyang, tiang listrik bergoyang, pohon asam jawa di jalan raya juga seperti akan tumbang. Dalam pikiran saya, gempa ini terlalu kuat. Saya kemudian teringat akan orangtua dan adik-adik. Dimana mereka saat ini? Saya menjeritkan doa dalam hati: “Tuhan lindungi mereka, lindungi mereka dan kami sekeluarga.”

keluarga A.P.H. Simatupang dan Lasmauli br. Debataraja (Uli berdiri paling kiri) [dok. Pribadi]

***

Beberapa saat kemudian, saya melihat bapak — sambil mendorong sepeda motor dengan perlahan – mendatangi tempat saya duduk. Saya langsung bangkit berdiri menghampiri dan memeluknya. Dengan tertatih-tatih, saya melihat badan jalan menggeliat seperti akan terbelah. Saat seperti ini, yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa. Tempo 10 menit guncangan gempa itu pun berhenti. Namun masih ada getaran-getaran gempa kecil saya rasakan. Mendapati keadaan mulai tenang, bapak pun melanjutkan perjalanannya ke gereja.

Saya kembali masuk ke rumah walaupun beberapa orang masih ada tetap berdiri dan bersimpuh di lapangan. Saya terdiam ketika mendapati berbagai perabot rumah sudah tidak sesuai posisinya. Kemudian, entah kenapa kaki saya seperti diperintahkan menuju ke kamar orangtua. Lagi-lagi, saya melihat beberapa barang berserakan di atas lantai.

Tangan saya membuka lemari pakaian, saya melihat perhiasan milik mama, beberapa ikat uang kertas, dan di sisi lain saya melihat sebuah kalung Rosario yang begitu sederhana. Rosario itu biasanya dapat bercahaya dalam gelap.

Saya kalungkan Rosario tersebut. Saya pegang salibnya dan saya cium. Lalu saya mengambil ponsel Motorola dan mencoba melakukan beberapa panggilan. Hasilnya nihil, tidak tersambung sebab memang tidak ada jaringan. Saya kembali keluar rumah dan heran kenapa melihat banyak orang yang pergi ke laut. Kebetulan rumah kami berada di pinggir laut (Ulee Lhue). Jarak rumah kami dan tepi laut hanya sekitar 600 meter. Tanpa mengenakan sendal, saya segera mengunci pintu rumah dan ikut-ikutan pergi ke laut. Saya dengar satu orang mengatakan bahwa air laut menjadi kering. Saya menjadi begitu penasaran.

Namun baru berjalan sekitar 200 meter, seorang tetangga dengan suara nyaring menyuruh saya untuk lari menjauhi laut. “Ada ombak besar,”imbuhnya. Namun, saya pikir ombak laut sudah biasa. Paling-paling, hanya meratakan bagian laut yg kering saja.

Namun melihat banyak orang pada berlarian saya pun turut panik berlari, kembali menuju rumah karena baru sadar tidak mengenakan alas kaki. Belum sampai lapangan voli di depan rumah, tangan saya sudah ditarik dan disuruh lari. Sayapun ikut lari dengan lambat. Beberapa meter berlari, saya mengajak teman saya — yang tinggal di dekat rumah — ikut berlari juga. Kami berlari berdua.

Saat menoleh ke belakang terlihat gulungan air yang begitu tinggi. Setinggi pohon kelapa. Saya sempat jatuh karena terkejut. Namun saya bangkit dan tetap berlari menuju jembatan. Ternyata di jembatan sudah dipenuhi banyak manusia. Semua bergeming dengan wajah pucat pasi.Saya berdiri di salah satu sisi jembatan dengan teman saya. Kami berpegangan tangan. Sambil mengatur napas, saya berdoa: “Ya Tuhan, kemana lagi kami akan berlari?”

Dengan cepat air laut sudah memenuhi sisi jembatan, dan tiba-tiba saja saya sudah tenggelam. Genggaman tangan teman pun terlepas. Saya menahan napas di dalam air, mencoba meraup benda apa saja di atas permukaan laut supaya bisa mengapung. Akhirnya saya memeluk sebatang kayu. Saya terombang ambing dengan gulungan ombak yg sudah penuh puing-puing bangunan – kayu-kayu, seng, perabotan, dan lainnya – selama satu jam lebih. Dan semua itu saya rasakan dalam keadaan sadar. Saya terseret arus kurang lebih enam kilometer. Saya berusaha utk naik ke atas atap rumah berlantai dua dan menunggu bantuan di sana.

Saya melihat banyak mayat mengambang di atas air dengan bentuk yang sudah tidak keruan. Sekilas kemudian, saya ingat akan rosario di leher. Saya raba, ternyata salibnya sudah hilang. Mungkin terhimpit kayu saat saya berusaha keluar dari air yang dipenuhi tumpukan kayu.

Di atas atap rumah itu, gempa masih sangat terasa. Saya menangis, mengingat dimana orangtua dan adik2 saya saat ini. Saya berdoa semoga Tuhan menjagai dan melindungi mereka.

Setengah jam kemudian, tentara dan polisi datang menolong, membawa kami keluar dari lokasi tersebut. Saya pun tak putus-putus bersyukur dan memuji belas kasih Tuhan. Rasa syukur saya pun semakin tergenapi, ketika tiga hari kemudian kami sekeluarga berhasil bertemu di Medan. Semua anggota keluarga kami selamat dari Tsunami.

=== Sebagaimana dikisahkan kepada Menjemaat. (Kontributor: Germano Manalu | Editor: Ananta Bangun)

Advertisements

Comments are closed.