“Karena Kita Bangkit, Gereja pun Turut Bangkit”


Tampak Muka – Gedung Gereja Stasi Tiga Sabah (Copyright: KomsosKAM)

“Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, sebagaimana dikatakan-Nya: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Jadi Gereja/ ekklesia maksudnya adalah kumpulan umat Allah, yaitu bangsa pilihan Allah yang baru, yang merupakan penggenapan dari bangsa pilihan Allah di jaman Perjanjian Lama, karena jasa Kristus yang menjadi Sang Anak Domba Perjanjian Baru. Gereja Katolik lahir, tumbuh dan dihidupkan oleh Sabda Allah, dan Tubuh dan Darah Kristus.

Dengan demikian, makna Gereja dalam Perjanjian Baru memang tidak terlepas dengan makna ‘jemaah’ dalam Perjanjian Lama karena PL dan PB memang berhubungan satu dengan yang lainnya; dengan PB sebagai penggenapan PL. Dengan demikian, Gereja mempunyai makna yang jauh lebih mendalam daripada hanya sekedar kumpulan orang- orang yang memuji Tuhan. Sebab Gereja telah dirintis oleh Allah sejak masa PL, namun kemudian disempurnakan dalam PB; dengan dijiwai dan diberi hidup oleh Kristus sendiri, agar dapat sampai kepada kehidupan yang kekal (Yoh 6: 54).”

***

Tim Menjemaat mulanya cukup kewalahan mencari alamat Ketua Dewan Stasi St. Yoseph Tiga Sabah, Hotmaruli Marbun. Setelah kontak ponsel – sejak tiba di kota Binjai – dan juga bertanya pada penjaja buah di pinggir jalan, kami menemukan rumah bapak tiga anak ini. “Mungkin karena baru pertama kali kemari, namun setelah ini pasti akan mudah menemukan jalan pulang ke Medan,” ujar Hotmaruli sembari tersenyum menyambut kami, pada Minggu (8/9/2017).

“Kita tidak harus buru-buru ke Gereja Stasi Tiga Sabah. Sebab Ibadat Minggu biasanya dilaksanakan pada pukul 09.00 wib,” imbuh Hotmaruli. Seraya mengajak tim Menjemaat menikmati penganan, dia menceritakan beberapa pengalaman pelayanan dalam gereja stasi di lingkup Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi – Binjai. “Saya mulai kemari (pindah ke stasi ini) pada akhir tahun 2003. Sebelumnya, saya sempat bolak-balik bergereja di Paroki Binjai dan juga di kampung halaman, Sorkam.”

Putra dari (alm.) Lamsana Marbun dan (alm.) Rustia br Sihombing ini tak menutupi kesannya saat kali pertama beri di Stasi Tiga Sabah. “Saya lihat gereja nya nggak layak pakai,” katanya mengenai kondisi fisik gereja stasi yang masih semi permanen. Menurutnya, keadaan tersebut juga mempengaruhi gairah umat untuk beribadah. “Sepertinya semangat iman para pengurus serta umat sudah lama lesu. Saya memaklumi karena tantangan perekonomian umat setempat cukup berat. Tentu tidak mudah untuk membagi waktu dan tenaga dengan kondisi demikian.”

Selang waktu satu bulan, Hotmaruli melakukan pendekatan terhadap pengurus dengan usul memugar gedung gereja. “Gagasan tersebut tidak mudah untuk langsung diterima mereka. Ini disebabkan, uang kas gereja hanya sebesar Rp750.000,” katanya. “Tapi, saya tak ingin kami lekas menyerah begitu saja. Dengan dana kas gereja dan uang pribadi, saya membeli karpet plastik sebagai alas untuk lantai. Kemudian, lanjut hari berikutnya hingga malam, saya dan beberapa umat memasang triplek sebagai pelapis sementara untuk dinding kayu yang telah rapuh. Sebab memang perawatan tempat ibadah ini sudah lama tak disentuh.”

Rehabilitasi ringan tersebut akhirnya menyentuh hati umat lainnya untuk memugar gedung gereja yang baru. Gedung permanen gereja pun akhirnya berhasil dirampungkan.  Berkenaan peran dalam proses pembangunan dan kepercayaan umat, Hotmaruli pun dipilih sebagai Ketua Dewan Stasi St. Yoseph Tiga Sabah untuk periode 2013-2018. “Pengurus DPS yang baru adalah : bapak Hotmaruli sebagai Ketua DPS, saya selaku Sekretaris DPS, kemudian ibu Masta Surbakti sebagai Bendahara DPS, dan ibu Malem br Ginting menjabat Bendahara Pembangunan Gereja Stasi,” tutur Musti Sembiring kepada Menjemaat.

Pengurus Dewan Pastoral dan Tokoh Umat Stasi Tiga Sabah 2013-2018 (Copyright: Komsos KAM)

Mulanya Masih 14 Kepala Keluarga

Seusai Ibadat Minggu, seorang tokoh umat setempat, Rulih Ginting berkenan berbagi kisah gereja Stasi Tiga Sabah kepada Menjemaat. “Saya sudah dua periode menjabat sebagai Vorhanger di stasi ini,” ucap Rulih memulai pembicaraan. “Ketika umat hendak memilih saya lagi untuk periode ke-tiga, saya menyampaikan permintaan maaf. Karena faktor usia dan tenaga yang tak kuat lagi.”

Ayah delapan anak ini mengatakan, mulanya umat di stasi tersebut hanya ada 14 Kepala Keluarga (KK). “Jika saya tak salah taksir, kami mulai berkumpul untuk ibadat pada tahun 1970-an. Sebelum gedung gereja semi permanen berdiri, kami semua melaksanakan ibadat Minggu di kilang padi milik seorang umat. Nama bapak itu, Sue Ginting. Saat itu yang mengajarkan agama Katolik pada kami adalah bapak Biasa Ginting. Dia adalah seorang Katekis yang diutus oleh Paroki Binjai,” kata Rulih mengenang.

Tokoh Umat Stasi Tiga Sabah, Rulih Ginting (Copyright: Komsos KAM)

Rulih samar-samar mengingat kapan mulanya permandian pertama diterima umat Stasi Tiga Sabah. “Bila tak salah, saya dan umat pertama di stasi ini dipermandikan pada tahun 1981, bertempat di losd (balai adat) Tiga Sabah. Saat itu kami dipermandikan oleh Pastor Magela dari Kolombi. Kurasa dia seorang Imam Kapusin, (dan) belum Imam Praja yang menggembala di sini,” terangnya. “Kemudian pada tahun 1985, sudah mulai ada gedung gereja. Semi permanen. Pembangunannya saat itu dibantu Keuskupan Agung Medan.”

Rulih memberi apresiasi atas kegigihan pengurus DPS baru sehingga kini telah dibangun gedung permanen gereja Stasi Tiga Sabah. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, Keuskupan Agung Medan dan pengurus DPS yang telah mau memikirkan nasib umat di sini,” ujarnya. “Mudah-mudahan dengan semangat iman yang baru bisa mengikuti jejak Tuhan.”

Hotmaruli sendiri tak menampik bahwa pembangunan fisik gereja masih belum usai. “Kami tengah merencanakan untuk memasang paving block di jalan setapak menuju gereja, serta Gua Maria di lahan sebelahnya. Pun, pengurus juga saling bekerjasama menumbuhkan semangat dan iman untuk turut serta berperan dalam gereja kita ini.”

Dia mengimbuhkan, beberapa stasi bertetangga dengan Tiga Sabah juga turut ‘tertular’ semangatnya untuk membenahi gedung gereja serta meningkatkan semangat umatnya agar aktif menggereja. “Karena kita bangkit, gereja stasi lain pun turut bangkit. Karena ada contoh. Para sahabat pengurus dan umat stasi lain, mungkin telah mendengar kisah perjuangan di stasi ini. Saya pun selalu terkenang, masa-masa mengantar-jemput umat setempat dengan angkot agar bersemangat ikut doa lingkungan. Demikian juga pengadaan sound system untuk mendukung ibadat Minggu lebih baik lagi.”

Bagi Hotmaruli dan seluruh umat Stasi Tiga Sabah, perjuangan tersebut menyemai hikmat istimewa dari Allah. “Mungkin Tuhan mau suruh saya dan umat di Stasi ini untuk berbuat di rumah-Nya. Saya sering sampaikan kepada para umat Stasi Tiga Sabah, agar tidak takut berbuat dalam Gereja. Tuhan yang kasih upah,” ucapnya mengenai pertumbuhan umat stasi yang kini telah mencapai 97 KK, dengan lima lingkungan.

Parokus Binjai, RD. Yohanes Sunyata juga menyambut baik pertumbuhan jumlah umat di Stasi Tiga Sabah. “Namun, saya berharap agar lebih banyak lagi umat yang aktif dalam ibadat dan kegiatan gereja. Menurut saya, fasilitas untuk ibadat di gereja sudah memadai bagi umat di Stasi Tiga Sabah. Hendaknya rahmat dari Tuhan ini menjalar bagi seluruh umat yang ada di stasi,” kata Imam Praja yang diutus dari Keuskupan Agung Semarang.

Akan semangat dan perjuangan pengurus dan umat Stasi Tiga Sabah, Menjemaat tergerak mengutip sebuah tulisan dari Katolisitas, di bagian awal dan akhir tulisan Pesona Gereja ini. “Maka, Gereja merupakan kumpulan orang- orang yang dibentuk oleh Tuhan sendiri, dipersiapkan sedemikian sejak jaman Perjanjian Lama, untuk mencapai penggenapannya dalam Perjanjian Baru oleh Kristus. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah kita mau sepenuhnya bergabung dengan Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri ini?”

 (Ananta Bangun, Pusataka: katolisitas.org) ////// ditulis untuk majalah Keuskupan Agung Medan, Menjemaat

Ibadat Minggu di Stasi Tiga Sabah (Copyright: Komsos KAM)

Comments are closed.