Menumbuhkan Hidup ‘Membaca Kitab Suci di Keluarga Katolik’ Keuskupan Agung Medan


(ki-ka): Kosman Manik, Fernando Tarigan, Yupen Pandiangan

Alkitab kita kenal sebagai Sabda Allah, maka melalui Kitab Suci ini, kita percaya Allah berbicara dan mengajar kita. Oleh karena itu, kita melihat dokumen pengajaran Gereja dipenuhi oleh kutipan ayat Kitab Suci sebagai sumbernya, sebab memang Gereja menyadari bahwa melalui Kitab Suci, Allah Bapa menjumpai anak-anak-Nya, untuk memberi pengajaran bahwa Sabda-Nya merupakan sumber kekuatan iman.

Dalam poin ke-dua Indikator Keberhasilan dari Fokus Pastoral Keuskupan Agung Medan (KAM) tahun 2017, menyebutkan: “100% keluarga Katolik membaca Kitab Suci di rumah minimal dua kali seminggu.” Semangat ini tentu merupakan ajakan bagi semua umat yang ingin mengenal Kristus secara lebih dalam. Sebagaimana petuah dari St. Jerome, kalau kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita tidak mengenal Kristus.

Empat paroki – diwakili oleh Seksi (terkait) Kitab Suci masing-masing – dalam sajian utama ini mengutarakan program, tantangan dan harapan untuk mewujudkan Fokus Pastoral KAM 2017. Secara khusus agar keluarga Katolik di keuskupan ini, hidup dalam doa dan membaca Alkitab sekeluarga.

Sejumlah pendekatan kreatif dan program rutin dilaksanakan oleh Seksi Kitab Suci di masing-masing paroki tersebut. Sebagai misal, Koordinator Seksi Kerasulan Kitab Suci (KKS) Paroki St. Mikael Pangururan, Kosmas Manik mengatakan, pihaknya telah dua kali mengadakan program Kursus Kitab Suci. “Antusiasme para peserta mengikuti kursus tersebut sangat besar. Bahkan, mereka menginginkan diajari agar mampu membuat khotbah,” ujarnya. “Tetapi hal itu tidak mungkin mereka peroleh, karena ini adalah kursus dasar. Peserta hanya dibekali pengenalan Kitab Suci, cara membaca KS dengan benar dan pengenalan tentang liturgi gereja.”

Dia mengatakan kegiatan, yang melibatkan peserta dari 68 stasi, ini bekerjasama dengan Tim Komisi KKS KAM. “Bukan karena tidak sanggup mengadakannya sendiri, tetapi menurut pemikiran kami lebih pas kalau bersama dengan Tim KKS keuskupan,” ujar bapak yang menjabat Ketua Dewan Pastoral Stasi Boho.

Seksi Kitab Suci di Paroki St. Yohanes Paulus II – Tuntungan menyajikan renungan setiap ibadat harian di rumah umat. “Kami dari seksi kitab suci yang membuat/ menyediakan bahan renngan tersebut guna dibahas umat setiap ibadat harian,” terang Fernando Tarigan, pengurus seksi Kitab Suci di paroki tersebut.

Suami Gohana br Sidabutar mengatakan, metode ini telah diterapkan sejak tiga tahun lalu. “Saat ibadat, kami juga turut berkatakese/mengajarkan isi kitab suci untuk pendalaman iman. Selain itu kami juga selalu menyarankan umat kami untuk membaca dan mengulas isi kitab suci di rumah masing-masing”

Sementara, Yupen Pandiangan, Ketua Seksi Kitab Suci di Paroki St. Mikael – Tanjungbalai mengaku target Fokus Pastoral KAM 2017 di poin ‘Keluarga Membaca Kitab Suci’ bukan hal mudah untuk diwujudkan. “Sebenarnya susah bagi untuk mencapai indikator 100% itu. Namun segala upaya tetap kami lakukan,” katanya kepada Menjemaat.

“Kami mulai dari lomba membaca Kitab Suci bagi kelompok kategorial di Paroki Tanjungbalai. Seperti:  Asmika, Orang Muda Katolik, dan lainnya. Kegiatan ini kami adakan setiap momen khusus, seperti pesta rayon. Tujuannya, agar ada semangat mereka membaca Kitab Suci.”

John Sitohang bersama Pastor Paroki Tarutung RD Marianus Kedang

Kesadaran Pentingnya Membaca Alkitab

Koordinator Seksi Pewartaan Paroki St. Maria – Tarutung, John Sitohang menilai indikator keberhasilan “100% keluarga Katolik membaca Kitab Suci di rumah minimal dua kali seminggu”, adalah hal baik. “Namun lebih tepat saya kira, (jika dibuat) “100% umat menyadari pentingnya Kitab Suci untuk dibaca.””

Menurut, aktivis gereja tersebut, penting untuk diingat bahwa banyak umat yang malas membaca Alkitab. “Mesti dibangun kesadaran terlebih dahulu. Umat diajak untuk menyadari bahwa membaca Kitab Suci itu penting, ditambah dengan penghayatan atau refleksi iman, kemudian pada tahun selanjutnya, ditargetkan umat sungguh-sungguh membacanya dirumah atau dalam keluarga,” pungkas Katekis Generasi Muda di paroki yang sama.

Senada, Yupen Pandiangan juga mengakui tantangan senada masih dihadapi seksi Kitab Suci di Paroki Tanjungbalai. Secara khusus di kalangan kaum bapak-bapak. “Karena itu, untuk bulan Kitab Suci Nasional, di sini kami merancang sebuah kegiatan. Bapak-bapak yang menjadi sasaran ini,” ujarnya. “Ada alasan khusus, karena para ibu-ibu sudah rajin membaca Kitab Suci. Hanya sedikit bapak-bapak yang aktif dalam doa lingkungan dan kegiatan membaca Kitab Suci. Dalam pengamatan kami, keluarga-keluarga di sini selalu disuguhi dengan Kitab Suci, mereka (bapak-bapak) menjadi bosan. Maka tak jarang, bapak-bapak lebih senang pergi ke kedai kopi.”

Paroki Tuntungan, di sisi lain, sedang menggodok rencana untuk membentuk kelompok-kelompok Kitab Suci dan kami bekali pemahaman kitab Suci. “Di samping itu, kami juga berencana membentuk kelompok kategorial lain, seperti melakukan doa Ofisi (ibadat Harian) yang di anjurkan Konsili Vatikan II,” terang Fernando.

Menurut John, hendaknya turut ada gerakan pengadaan Alkitab bagi keluarga-keluarga Katolik di KAM. “Bisa dikatakan hanya 25% yang mempunyai Alkitab Deuterokanonika. Kebanyakan memiliki kitab perjanjian baru yang digabung dengan mazmur, atau kitab suci Gideon. Itupun syukur masih ada memberikannya,” ujarnya.

John berharap, agar alkitab bersubsi ataupun gratis bisa diedarkan bagi umat, khususnya di Paroki Tarutung. “Kalau ada yang mau menyumbangkan kami akan sangat senang. Memang “mental gratis” ada, tapi bagaimanapun kitab suci itu bukan seperti buku biasa. Akan ada waktunya, kehadiran alkitab itu akan memberikan semangat bagi pemiliknya.”

Dia juga mengaku prihatin, sebagian umat mengenal isi Alkitab sebatas untuk menang perlombaan atau guna mendapatkan hadiah. “Belum menjadi kebutuhan yang menggerakkan hidup,” kata John seraya mengimbuhkan, seksi pewartaan Paroki Tarutung tetap memanfaatkan setiap waktu pertemuan untuk mengenalkan dan mendorong umat agar lebih akrab dengan kitab suci.

Namun, sejumlah tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat untuk menumbuhkan hidup doa dan membaca Alkitab di tengah keluarga Katolik di KAM. Sebagaimana disampaikan Yupen,” Meskipun demikian, kita harus tetap maju. Kita kerjakan ini untuk Tuhan bukan untuk mereka.”

Di pihak lain, John mengatakan, Paroki Tarutung juga sedang mematangkan metode yang mudah tepat bagi umat guna mendukung Fokus Pastoral KAM 2017. “Seperti live in bersama umat, selama dua hari satu malam. Tuan rumah yang memimpin untuk membaca alkitab dalam keluarga. Diharapkan anak-anak muda mengikutinya dengan dukungan keluarga-keluarga. Ini sejalan dengan keluarga berdoa, jadi di hadapan para peserta live in, orangtua akan menunjukkan teladan lewat pembacaan kitab suci minimal satu kali dalam dalam satu hari. Tak salah juga bila ditambah dengan refleksi atau sharing penghayatan dan pengalaman hidup,” tambahnya.

Bapak Kosmas turut mengiyakan, dan memulai tugas mulia tersebut dari diri sendiri. “Dengan melakukan doa Malaikat Tuhan (Angelus) tiga kali sehari hati terasa damai. Dan saya akan memulai membaca Kitab Suci bersama dalam keluarga saya, dengan itu akan benarlah keluarga saya disebut gereja rumah tangga yang pendoa dan saleh. Semoga Tuhan membantu keluarga saya dalam mewujudkannya.”

(Sr. Dionisia Marbun SCMM, Rina Barus, Jansudin Saragih, Ananta Bangun)

////// ditulis untuk majalah Keuskupan Agung Medan, Menjemaat.

Comments are closed.