“Saat mengajar mereka membuat lilin, saya menemukan wajah Allah”


Sr Antonia Simarmata KSSY (Copyright: Komsos KAM)

Suster Antonia Simarmata KSSY cukup kaget tatkala disapa Menjemaat untuk wawancara profil “Apa & Siapa” edisi bulan ini. Maklum, dia tengah menata benang katun sebagai sumbu lilin di sebuah mesin berupa rak dengan banyak lubang-lubang berukuran sekira diameter setengah centimeter.

“Di sini, menurut Yayasan, saya dipercaya menjadi Kepala Unit Perlilinan SLB – B Karya Murni, di Paroki Pasar Merah, Medan,” aku suster kelahiran 24 Juni 1965. “Pengertian dari unit di sekolah ini adalah tempat pelatihan. Selain unit pelatihan pembuatan lilin, juga ada unit pertukangan. Biasanya mereka membuat mebel.”

Suster Antonia menjelaskan, unit pelatihan mengajarkan siswa dengan cara melihat dan meraba langsung. “Dengan demikian, mereka bisa mudah menguasai keahlian yang kita beri. Oh, iya. Untuk unit perlilinan ini, hanya kelas bagi siswa SD di SLB-B Karya Murni.”

Unit perlilinan di Karya Murni memproduksi dua ukuran lilin untuk devosi. “Yakni, ukuran 9 cm dan 13 cm. Khusus ukuran yang besar tersebut dibuat untuk altar.”

Dia mengatakan, setiap minggu mereka bisa memproduksi 3.000 biji untuk ukuran 9 centimeter. Sementara untuk ukuran 13 centimeter, biasanya telah banyak dipesan dahulu oleh Paroki Hayam Wuruk Medan. “Untuk kegiatan devosi umat Paroki Hayam Wuruk, mereka bisa memesan hingga tiga ribu hingga lima ribu biji lilin.”

Selain pembuatan lilin, unit tersebut juga membuat kreasi hiasan di badan lilin. Suster Antonia mengatakan, hiasan tersebut dapat mereka buat dengan mencetak gambar-gambar yang dinduh dari Internet, lalu diberi sablon khusus untuk lilin.

“Terkadang kami menerima tempahan hiasan khusus untuk pesta besar, seperti baru-baru ini Yubileum 50 tahun di Paroki Pasar Merah,” kata Suster yang beroleh keahlian membuat lilin dari seorang umat Katolik di Jakarta, pemilik usaha pembuatan lilin.

“Untuk bahan pembuatan lilin, kami biasa menggunakan bahan parafin yang diimpor dari negeri China. Bahan baku ini lah yang membuat harga lilin dari unit kami lebih mahal dari suplier yang lain,” ujarnya.

Dia menegaskan, Kongregasi KSSY menjadikan unit ini untuk melatih keahlian bagi siswa SLB – B Karya Murni. Tidak semata-mata untuk tujuan komersil.

“Pengalaman selama menjadi pembimbing bagi siswa SLB-B Karya Murni di unit ini sungguh menyenangkan. Saya belajar untuk semakin menyelami semangat spiritual kongregasi: ‘Imago Dei’.  Di dalam diri mereka ada kami lihat wajah Tuhan,” imbuh Suster Antonia.

//// ditulis untuk majalah Keuskupan Agung Medan, Menjemaat

Comments are closed.