‘Quo Vadis’ Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan Seusai Yubileum 50 Tahun?


Seremoni HUT 50 Tahun Paroki dan 42 Tahun Tahbisan Episkopal Mgr A. G. Pius Datubara OFM Cap | Credit photo: Paroki Pasar Merah, Medan

Menjadi Paroki Komunitas Ekaristis: Dengan Setia Mewartakan Injil Kristus”

Misa Ekaristi dan rangkaian lomba hingga hiburan menghiasi perayaan Yubileum 50 tahun, Renovasi dan Pembangunan Gereja Katolik Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan, pada Minggu (2/7/2017). “50 Tahun bukan waktu yang singkat,” tanggap Parokus RP. Frans Borta Rumapea, O. Carm, sebagaimana dikutip dalam buku kenangan momen istimewa ini.

Lebih jauh, Pastor Borta berharap Pesta Emas tersebut menjadi titik tolak sebuah gerakan besar Paroki – yang bertempat di daerah bekas pabrik batu bata pemerintah Belanda di zaman penjajahan, yang hingga kini dikenal dengan sebutan Pasar Merah – ini. “Quo Vadis (hendak kemana) Paroki ini akan melangkah? Demikianlah inti yang saya ingin diresapi Imam, Klerus, Dewan Pastoral hingga Umat di Paroki ini ke depannya,” kata Pastor Borta, dalam diskusi bersama Menjemaat guna penulisan Sajian Khusus ini.

***

Gedung gereja Paroki Pasar Merah thn 1967 | Credit photo: Paroki Pasar Merah, Medan

Dalam buku “Berbuat Banyak dengan yang Sedikit”, Pastor Edison R.L. Tinambunan O.Carm menuliskan sepenggal sejarah Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan. Judul buku itu sendiri adalah ajimat dalam karya pastoral para Imam Karmel bermula dari pertapa di Gunung Karmel – termasuk tokoh Perjanjian Lama, Nabi Elia – yang kerap disebut emerit.

Pastor Edison mengawali sejarah itu:”Setelah Ordo Karmel memulai misi di Sumatera dengan pembukaan teologi di Pematangsiantar dan penanganan paroki di Dairi, ada pembicaraan dengan Uskup Agung Medan, (kala itu) Mgr. Ferrerius van den Hurk OFM Cap, untuk membuka paroki di Medan. Tujuan adalah untuk efisiensi berbagai urusan yang harus dikerjakan di Medan sebagai pusat pelayanan parokial dan ibu kota provinsi ; alasan lain, Sidikalang – Medan berjarak 150 km. yang pada waktu itu ditempuh dengan perjalanan setengah hari. Oleh sebab itu, jika Karmelit bepergian ke Jawa, maka membutuhkan tempat  transit. Uskup Agung Medan merestui rencana tersebut, sehingga misionaris Karmel ditambah dengan mendatangkan Pastor Johanes Beatus Peper dan Carmelus Kwee Thiam Gee pada tahun 1966.

Pastor Johanes Beatus Peper kemudian membeli tanah pada tahun 1966 untuk alokasi gereja dan pastoran. Gereja dan Pastoran Pasar Merah baru selesai pada tahun 1969, dan diberkati oleh Mgr. van den Hur pada 9 November 1969. Sebelumnya, sejak 20 September(1969), Pastor Peper telah meninggalkan kediamannya yang lama di Pastoran Jalan Pemuda Medan, untuk menetap di pastoran baru di parokinya sendiri.

Drs. Wismar Viktor Butarbutar (seorang tokoh umat di Paroki Pasar Merah Medan) turut mengisahkan ulang sejarah paroki dalam buku kenangan Perayaan Yubileum 50 Tahun Paroki Pasar Merah Medan. “Pada masa awal gereja, umat menyebut dengan sebutan Gereja Katolik Pasar Merah. Bangunan gereja tidak hanya diperuntukkan untuk ibadah Misa Minggu, namun pada hari biasa merupakan ruang kelas untuk murid Sekolah Dasar (SD) kelas 1. Untuk pengelolaan sekolah dipercayakan kepada kepada ibu Sirus Hutabarat boru Situmorang. Sekolah dasar inilah yang kemudian menjadi Sekolah Santo Antonious di jl. H.M. Joni sekarang ini,” Wismar menuturkan.

Wismar melanjutkan, pada tahun 1970-an, jumlah umat terus bertambah. “Umat yang biasanya mengikuti misa di Gereja Katedral akhirnya mulai mengikuti misa di Gereja Santo Paulus Pasar Merah. Semakin berjalannya waktu dan semakin berkembangnya gereja maka gereja kembali memerlukan renovasi.”

Pada tahun 1990-an, di bawah kepemimpinan Pastor Damianus diusulkan penambahan bangunan di samping gereja. Mulai dibuatlah teratak (non permanen) di samping gereja dan menggunakan kursi plastik, halaman gereja yang semula hanya tanah ditutupi dengan biji kelapa sawit. “Ini merupakan inovasi mengingat mahalnya harga semen dan batu pada masa itu, untuk menutupi halaman gereja yang jika hujan selalu berlumpur dan tergenang air,” katanya. “Pada tahun 2000-an seiring bertambahnya jumlah umat dan Paroki Pasar Merah juga sudah memiliki beberapa stasi, ini juga diiringi dengan pertambahan jumlah Pastor, Suster dan Pelayan Gereja.”

Pertambahan ini pun akhirnya juga memaksa renovasi bangunan Pastoran yang sudah ada. Atas dasar dorongan Pastor Karel dan umat maka dimulailah pembangunan Gedung Pastoran baru yang berfungsi sebagai kamar tidur Pastor, ruang makan, ruang kantor, aula dan garasi. “Halaman gereja berganti menjadi con block merah dan lebih bersih dan tertata rapi,” kata Wismar.

Gedung gereja Paroki Pasar Merah – sekarang | Credit photo: Paroki Pasar Merah, Medan

Paroki Sebagai Komunitas Ekaristi yang Menghadirkan Kerajaan Allah di Dunia

Ungkapan syukur mengalir dalam doa serta torehan aksara, baik dalam perayaan Misa Ekaristi hingga buku Kenanan Perayaan Yubileum 50 Tahun Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan. Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap menyatakan syukur yang berlimpah kita sampaikan kepada Tuhan yang telah menyertai peziarahan panjang Paroki Pasar Merah Medan sampai setengah abad. “Usia Emas paroki kita dalam ragam pengalaman, adalah bukti nyata kehadiran Tuhan dalam setiap nafas dan gerak hidup kita sebagai Gereja yang hidup diteguhkan selalu lewat kesatuan yang berdoa dan berekaristi,” tutur Mgr. Anicetus.

“Dalam perayaan syukur lima puluh tahun ini, kita juga hendak bermenung melihat diri, sejauh mana kita setia kepada Tuhan seraya mendalami juga hidup dan iman Santo Paulus, pelindung Paroki ini. Tahun-tahun yang kita lalui dalam paroki ini adalah peziarahan iman,” Mgr. Anicetus mengimbuhkan. “Pada tahun ini, Keuskupan Agung Medan sedang berziarah seraya berjuang untuk menjadi Keluarga yang Berdoa dan Saleh. Kita mau menyegarkan keyakinan diri bahwa doa adalah nafas hidup kita, baik sebagai orang beriman maupun sebagai pribadi sosial.”

Uskup Agung Medan mendorong umat Katolik – terutama di Paroki Pasar  Merah Medan  dengan jumlah umat 7.829 jiwa (statistik tahun 2014)– untuk membangun tekad teguh dalam karya bagi Tuhan seturut teladan dan semangat Santo Paulus.

“Kita sungguh memerlukan daya spiritual yang setiap kali dapat kita peroleh lewat doa dan secara khusus lagi dalam dan lewat Ekaristi suci. Kesatuan dan kekeluargaan yang terbangun dalam Ekaristi harus menjadi Kabar Gembira bagi orang di sekitar kita. Dan semangat Ekaristi hendak kita tumbuhkan lagi dalam persaudaraaan yang saling meyalani sebagaimana diajarkan oleh Yesus sendiri. Dalam semangat emas ini, kita kembali menyegarkan kekeluargaan kita yang diikat oleh Perjamuan Yesus dalam Ekaristi Kudus,” Mgr. Anicetus menandaskan.

Uskup juga mengapresiasi Paroki Pasar Merah sebagai gereja yang cukup dinamis di tengah-tengah paroki lainnya di kawasan kota Medan. “Dinamis dalam hal perkembangan umat dan pembangunan fisik gereja. Baru dua tahun yg lalu membangun, sekarang sudah hendak merencanakan pembangunan lagi.”

Parokus Paroki Pasar Merah Medan turut merintis permenungan dalam napaktilas jauh tersebut. Menurutnya, seibarat orang yang sudah berumur 50 tahun sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan. Seluruh insan di paroki patut bersyukur untuk waktu yang telah berlalu sambil menata langkah ke masa depan yang lebih mulia.

“(Namun) Untuk apa kita merayakan Yubileum 50 Tahun ini? Ketika kita terbilang dalam sebuah paroki maka banyak kisah dan kasih yang dapat kita catat. Perjalanan hidup paroki, sesungguhnya adalah juga perjalanan hidup kita, tak terkecuali umat yang datang kemudian sebagai umat paroki. Di paroki ini, kita dapat mengamati dan menyaksikan diri dari dekat maupun dari jauh perjalanan hidup seseorang, dan seseorang itu bisa Anda, dan terutama perjalanan iman seseorang dengan yang Ilahi. Apa artinya menjadi seorang Katolik di paroki ini?” ujarnya.

Pastor Borta menambahkan, dengan Yubileum 50 Tahun Paroki umat kiranya semakin menyadari kehadiran paroki sebagai tempat perjumpaan kaum beriman. “Kita diundang untuk semakin meningkatkan hidup doa, persaudaraan, dan pelayanan di Paroki sebagai Komunitas Ekaristi yang menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Hal ini bisa nampak ketika seluruh umat paroki hadir pada misa hari Minggu dan terlibat penuh dalam setiap program paroki.”

Meskipun hadir pada Misa Hari Minggu adalah sangat baik, tetapi tidak cukup bagi seorang anggota paroki. “Secara pribadi saya meyakini bahwa pembangunan rohani umat lebih penting daripada pembangunan fisik di setiap paroki. Adalah fakta bahwa Yubileum 50 Tahun Paroki kita, bersamaan dengan renovasi gereja, dan pembangunan sarana pastoral. Bahkan kalau Tuhan berkenan pembangunan gereja paroki juga akan dilanjutkan,” imbuh Pastor Borta. “Ide renovasi gereja berasal dari saya, tetapi pembangunan sarana pastoral berasal dari umat. Saya senang dengan semangat dan prakarsa umat  tetapi sekaligus was-was.”

Ketua Pelaksana I DPP Paroki St. Paulus Pasar Merah – Medan, Jarodes Simbolon turut menegaskan rencana renovasi dan pembangunan di paroki menyusul pesta Yubileum 50 Tahun tersebut. “Di depan mata, dalam waktu dekat kita akan merenovasi ruang perkantoran serta aula, yang kesemuanya itu adalah milik kita, untuk memenuhi kebutuhan anak cucu kita kelak, maka saya dengan kerendahan hati dan pikiran untuk mengajak semua umat untuk saling bahu membahu dalam membangun gedung tersebut,” imbau Jarodes.

“Pepatah leluhur kita menasihatkan “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”, yang juga didukung oleh opung kita yang mendahului kita dengan nasehat “tappak na do tajomna, rim ni tahi do gogona.” Maka saya mengajak kita semua umat separoki untuk mau memberikan apa yang dapat kita berikan apakah tok tok ripe, atau mungkin masih bisa mengulurkan tangan untuk memberikan donasinya,”ujar Jarodes.

Dalam sambutannya di buku kenangan, Jarodes turut mengucapkan terima kasih atas kehadiran Gubernur Sumatera Utara, Walikota Medan, Kapolda Sumut, Kapolresta Medan, Yulia Sinurat (dari Pembimas Katolik – Kementerian Agama wilayah Sumut) dan beberapa perwakilan tokoh agama lainnya.

Salah seorang umat di Paroki Pasar Merah Medan, Kristinus Munthe menambahkan, seluruh umat setempat juga turut merayakan 42 tahun Tahbisan Episcopate dari Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara dalam Yubileum paroki tersebut. “Di samping itu, setelah 50 tahun, akhirnya paroki memiliki patung pelindung yang ditandu saat perarakan masuk dan ditempatkan di kiri altar. Patung pelindung ini diberkati oleh Mgr. Anicetus Sinaga,” imbuhnya.

Komisaris Karmel Sumatera, RP Antonius Manik O. Carm juga mewariskan petuah. “Pada perayaan 50 tahun ini, mari kita bercermin dan meneladan Santo Paulus yang menjadi pelindung paroki kita yang kita cintai ini.”

Pastor Antonius memberi ilham,”Sebagaimana Santo Paulus mengatakan, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Kor. 9:16). Maka Paroki dan semua umat lebih bersemangat lagi bukan hanya hidup sebagai umat Katolik yang baik, tetapi semua ambil bagian dalam pewartaan Injil.”

(Ananta Bangun |  Pustaka: “Buku Kenangan Perayaan Yubileum 50 Tahun Gereja Katolik Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan”, “Berbuat Banyak dengan yang Sedikit: Lima Puluh Tahun Ordo Karmel Berkarya di Sumatera 1965 – 2015” (Edison R.L. Tinambunan, O. Carm. Juni 2015. Penerbit Karmelindo: Malang).

 

//// ditulis untuk majalah Menjemaat (this is a long-version article)

Advertisements

Comments are closed.