Sr. Xaveria Lingga, FSE “Rancangan Tuhan Sungguh Tiada Terduga”


(dok. Pribadi) | Sr. Xaveria Lingga, FSE

Panggilan hidup menjadi biarawati saya alami semasa kanak-kanak. Kala itu, saya bersama keluarga ikut menghadiri satu misa akbar di Sidikalang. Mungkin disebabkan banyak umat hendak menerima hosti dan Imam seulebran/ konselebran hanya segelintir, maka sejumlah Suster turut membantu pemberian hosti bagi umat. Saya sungguh terkesima menatap para Suster tersebut, dan spontan berkata: “Saya ingin jadi Suster seperti mereka.”

Keluarga kami telah lama rukun hidup bersama kalangan biarawan/ biarawati. Keberadaan rumah kami, di Sumbul, yang dekat dengan Pastoran mempererat hubungan tersebut. Sejatinya, Bapak dan Mamak saya sebelumnya menganut Kristen Protestan. Tatkala dipermandikan sebagai umat Katolik, Bapak sempat bernazar: “Jika Tuhan menghendaki anak-anakku sebagai abdi-Nya, maka kami tidak akan menghalangi panggilan tersebut.”

Saya belum sekalipun mengetahui nazar Bapak, sampai satu kali melontarkan niat untuk menjadi Suster. Mamak sempat hendak membujuk untuk mengurungkan niat saya tersebut. Karena 1 abang saya dan 2 kakak saya sudah belajar hidup membiara. “Ada baiknya, jika salah satu dari kalian hidup di luar jalan pelayanan sebagai biarawan/ biarawati,” kata Mamak kepada saya dan adik bungsu. Namun, karena sungkan diketahui Bapak, Mamak pun tak lagi menahan keinginan kami.

Semangat nazar Bapak lah kiranya yang turut menyulut semangat hidup membiara di tengah-tengah 3 putrinya yang kini menjadi Suster. Abdi bagi Tuhan dan Gereja.

Tak Kuasa Menolak Penyelenggaraan Ilahi

Pada awal memilih Kongregasi, saya sempat bimbang ketika didorong oleh seorang Pastor untuk masuk Kongregasi Suster Fransiskanes dari St. Elisabeth (FSE). “Setahu saya Suster di Rumah Sakit Elisabeth hanya kerja sebagai perawat. Bukan Suster biarawati,” ujar saya. Namun, Pastor menjelaskan bahwa saya keliru. “Ada banyak Suster biarawati dari FSE, dan tidak semua menjadi perawat,” kata Pastor tersebut. Saya pun mahfum dan memilih kongregasi FSE.

Usai merampungkan rangkaian pembelajaran dan prosesnya, saya pun siap menyatakan kaul kekal di FSE. Dari momentum istimewa ini, saya tidak menyadari bahwa Tuhan telah merancang jalan pelayanan yang tidak pernah saya fikirkan. Jalan anugerah yang mustahil bagi biarawati dari tempat terpencil seperti saya.

Dua hari setelah berkaul, Dewan Pimpinan menyampaikan tugas studi bagi saya untuk mengenyam pendidikan di STFT Malang. Karena merasa kurang layak mendapat tawaran tersebut, saya sempat sampaikan untuk memberikannya pada saudari Suster yang lain. Namun Pimpinan kami, Sr. Wilfrida Simbolon, FSE bersikukuh dengan rencana tersebut. “Apa yang baru kamu janjikan dua hari yang lalu?” tegas Sr. Wilfrida.

Saya terkesiap. Dan menerima tugas tersebut sebagai tanda kaul ketaatan saya.

Menjalani pendidikan di STFT Malang pun sungguh saya nikmati. Terutama kala memahami bahwa pengetahuan yang saya peroleh menjadi bekal mumpuni untuk mengelola program retret di Retret Center Samadi Maranatha – Brastagi. Berkat kemurahan Tuhan, saya pun merampungkan studi di STFT Malang dengan baik.

Saya pun kembali dan mengabdi di Rumah Retret Samadi Maranatha. Namun, selang dua tahun kemudian, saya dapat kabar dari Pimpinan kami untuk tugas studi kembali. Bahkan, di luar dugaan, saya diharapkan bersiap untuk menjalani pendidikan Master (S2) ke luar negeri.

Astaga! Bagaimana mungkin saya dapat menjalani tersebut. Mengingat kemampuan bahasa asing yang tak cukup mumpuni. Saya pun menyampaikan perihal kelemahan pribadi ini kepada Pimpinan kami. Tak ingin terburu-buru, Sr. Wilfrida hanya mengatakan: “Coba kamu fikirkan dengan matang terlebih dahulu.”

Tarik ulur keberangkatan saya untuk studi ke negeri seberang ternyata berlangsung hingga beberapa tahun. Bahkan saat kapitel Kongregasi FSE, Pimpinan memesankan agar saya tidak diganggu dahulu, karena hendak ditugaskan studi ke luar negeri.

Kegundahan saya pun akhirnya luluh, ketika Pimpinan kami mengatakan: “Semua ini adalah rencana Tuhan. Bukan sekedar kehendak Kongregasi.” Saya mengiyakan. Jika memang ini jalan yang direncanakan Tuhan, maka saya tak kuasa untuk menolaknya.

 

Petualangan bak Laskar Pelangi

Irlandia menjadi negara tujuan pertama saya untuk mengikuti pendidikan Master ini. Perasaan saya campur-aduk di tengah senang, heran dan kekhawatiran. Bagaimana mungkin seorang biarawati dari Sumbul akan bertolak dari Medan dan mengarungi angkasa menuju Eropa? Bagaimana saya dapat belajar dan hidup di tengah insan-insan yang berbahasa beda denganku?

Benar saja. Saya sempat terganjal bahasa ketika transit di London. Dengan sedikit bahasa Inggris berpadu bahasa isyarat, saya mohon bantuan petugas bandara. Melihat tiket dan jadwal penerbangan saya, hampir satu regu petugas dengan panik menghantar saya ke gate pesawat tujuan Irlandia. Untunglah, saya dihantar mereka dan tiba beberapa menit sebelum pesawat melayang.

Di Irlandia, saya dibimbing oleh seorang Pastor SVD. Memang tempat saya belajar tersebut juga merupakan satu kampus belajar bahasa asing bagi Imam SVD. Proses pembelajaran Negeri dengan pulau terbesar ketiga Eropa tersebut akhirnya usai dan melanjut ke Belanda. Tetapi, di Belanda, muncul permasalahan karena materi studi yang berbeda dengan kebutuhan Kongregasi kami. Saya pun tak lama menjejak kaki di negeri Kincir Angin tersebut, dan diarahkan ke Inggris.

Sebagaimana di Irlandia, saya semangat menuntaskan masa pendidikan S2 dengan lekas. Pertimbangan saya disebabkan biaya hidup sungguh mahal di negara Ratu Elizabeth tersebut. Terlebih pihak kampus dan Profesor pendamping juga memahami permohonan saya.

Tempo beberapa tahun, saya pun kembali ke Indonesia, dan diperbantukan ke satu lembaga pendidikan di Deli Tua. Dalam masa pengabdian sebagai pengajar itu, saya tengah menantikan ijazah dari kampus di Inggris. Sebab saya tak hendak menunggu bukti kelulusan sembari terpekur tanpa karya.

Sungguh tak terungkap betapa bahagianya saya, ketika akhirnya ijazah tersebut sampai ke tangan saya. Tanda perjuangan saya selama ini di negeri seberang. Dengan tergesa saya pun menemui Pimpinan kami untuk menunjukkan ijazah itu. Sr. Wilfrida pun tersenyum, dan berujar tenang: “Nah. Sekarang kamu sudah bersiap untuk lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi.” Hening sejenak. Saya pun terkesima. Ternyata petualangan bak Laskar Pelangi ini belum usai.

Hanya kehendak Tuhan Yang Terjadi, Aku Melangkah Saja

Seperti yang lalu-lalu, saya sempat menepis tawaran tersebut dan mengusulkan agar saudari FSE lain turut menikmati pengalaman studi di luar negeri. Namun, Pimpinan kami tetap kukuh. “Tidak. Tuhan sudah beri jalan untukmu,” katanya.

Setelah membuat beberapa persiapan, saya pun mengenyam pendidikan ke luar negeri kembali. Kali ini, saya melanglang menuju Roma. Kota sarat sejarah Gereja Katolik.

Tidak hanya pengalaman hidup beradaptasi dengan insan-insan baru. Namun juga buah pengetahuan serta pengalaman saat inaugurasi Paus Fransiskus turut mengisi pengalaman semasa menuntut ilmu di Roma.

Sungguh banyak pengalaman yang saya kecap, dan tak cukup dituangkan dalam catatan kisah ini. Namun seluruh pengalaman panggilan ini, menguatkan saya pada kata mutiara: “Aku sudah menyerahkan diri, aku tak tahu apa yang terjadi ke depan. Hanya kehendak Tuhan lah yang terjadi. Aku melangkah saja”.

Harus saya akui, saya bukan pribadi yang gampang bergaul. Namun, jejak pengalaman tersebut mengajarkan saya untuk beradaptasi sembari menyerap pengetahuan. Selain itu, terselip juga pengertian bahwa banyak Suster FSE di belakang saya dan menjaga citra mereka.

Saya menyadari dan meyakini kepada penyelenggaraan Ilahi. Saya ini hanya alat-Nya semata.

 

(Sebagaimana diceritakan kepada Ananta Bangun) | dimuat di Menjemaat edisi Oktober 2015

Advertisements

Comments are closed.