Stasi St. Paulus Hariantimur: “Rahmat Tuhan Yang Membangun Gereja dan Umat”


(Copyright: Komsos KAM) Gereja Stasi St. Paulus Hariantimur

Gereja Katolik St. Paulus Stasi Hariantimur merupakan bagian dari Paroki St. Pius X Aek Kanopan. Paroki ini juga menjadi sekretariat Vikariat Episkopal St. Mateus Rasul Aek Kanopan dengan lingkup wilayah menyentuh empat kabupaten. Yakni: Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan hingga Toba Samosir.

Parokus St. Pius X, RP. Hiasintus Sinaga, OFMCap merekomendasikan liputan Pesona Gereja di edisi ini mengingat Stasi Hariantimur baru saja meresmikan pemberkatan gedung gerejanya yang baru. Uskup Emeritus Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap memimpin misa dedicatio gedung gereja yang terletak di Kecamatan Kualuh Hilir, Labuhanbatu Utara, pada Minggu, 03 Agustus 2014 lalu.

“Saat mencari stasi ini mungkin tak banyak penduduk yang tahu nama Hariantimur. Sebab, sebelumnya dinamai Stasi Kandang Horbo (kerbau),” Pastor Hiasintus mengingatkan tim Menjemaat dengan senyum jenaka. Belakangan, tatkala bersua Ketua Dewan Pastoral Stasi (KDPS) Hariantimur, bapak M. Sialagan menjelaskan mengapa dulu disebut Kandang Horbo. “Sebelumnya, kampung kita ini dinamai Kandang Harimau. Karena dulunya di sini pernah juga dilewati harimau. Nah! Agar tidak menimbulkan rasa takut, para tetua kami menamainya Kandang Horbo,” kata bapak Sialagan seraya menambahkan penamaan baru menjadi Hariantimur diambil karena kebanyakan dari mereka adalah pendatang dari Harian Boho, Samosir.

(dok. Paroki Aek Kanopan) | gereja lama Stasi Hariantimur

Kilas Sejarah

Pada tahun 1970-an cukup banyak orang-orang dari Samosir dan Tapanuli datang ke daerah Kualuh Hilir untuk mencari lahan pertanian. Mereka pada umumnya sudah memeluk agama Kristen. Kurang lebih tahun 1973 mereka membentuk perkumpulan peribadatan bersama. Dari sekian banyak orang Kristen yang ada, di antaranya terdapat orang Katolik. Jumlah orang Katolik pada waktu itu sebanyak 10 Kepala Keluarga (KK).

Pada suatu hari orang-orang Katolik ini mengadakan pertemuan khusus. Dalam pertemuan tersebut mereka menyepakati untuk membuat peribadatan khusus secara Katolik untuk setiap Minggunya. Peribadatan secara liturgis Katolik untuk pertama sekali diadakan di rumah J. Sinaga (Pak Rapat) yang waktu itu masih berstatus lajang. Gelar beliau cukup terkenal dengan nama panggilan “Sibalga Sangku”.

Kurang lebih setahun kemudian tempat berkumpul pindah ke rumah Pak Hotler Manik dan pemimpin ibadat tetap J. Sinaga. Tak lama berselang, mereka membangun gereja sangat sederhana dengan ukuran 7 x 9 m didirikan. Pada waktu itu umat Katolik  10 KK itu sudah tinggal menetap di (pada masa itu) Kandang Horbo.

Berkat karya Roh Kudus, tahun 1982 warga Katolik di Kandang Horbo sudah mencapai 40 KK. Pada saat itu, timbullah niat perbaikan gereja. Gedung gereja yang mereka rencanakan berukuran 7 x 12 m. Pada pesta penerimaan Krisma yang dipimpin oleh Mgr. A.G. Pius Datubara, OFMCap. Pada 1983, diadakan juga pesta pembangunan gereja lengkap dengan “Gondang Sabangunan”.

Pada  tahun 1987, jumlah umat sudah mencapai 50 KK.  Dengan semangat, umat bersatu padu untuk merehab ulang gereja dengan ukuran 7×15 m dengan kondisi gereja semi permanen. Namun, seiring waktu, umat lalu sepakat untuk tetap mengutip dan mengumpulkan uang untuk mengantisipasi perkembangan pembangunan selanjutnya.

“Kepemimpinan pun silih berganti. Bapak Simbolon karena alasan pindah tempat tinggal ke Aek Kanopan, digantikan  oleh bapak L. Sitanggang atau Amani Bosner Sitanggang.  Kepemimpinan beliau berlangsung sejak tahun 1995 sampai 1999,” Pastor Hiasintus mengisahkan. “Kemudian Bapak L. Sitanggang memberikan tongkat estafet penggembalaan kepada Bapak O. Malau melalui proses periodisasi. Periode berikutnya, Stasi Kandang Horbo dilayani para pengurus gereja dan sebagai Ketua Dewan Stasi diemban oleh Bapak  S. Naibaho. Dan sekarang kepemimpinan pelayanan diemban oleh Bapak M. Siallagan.”

 

(dok. Paroki Aek Kanopan) | ekaristi penyerahan kunci gereja baru dipimpin Mgr. A.G. Pius Datubara OFM Cap

Inisiatif Membangun Gereja Baru

Kondisi bangunan gereja yang sungguh memprihatinkan sekarang sungguh tak mendukung terhadap  semangat dan  minat umat untuk datang beribadat ke gereja pada hari Minggu atau pada perayaan momentum tertentu. Gedung gereja lama lebih pantas disebut sebagai gudang rongsok yang berbau tak sedap serta sangat gerah dan panas. Dindingnya sudah banyak bolong dan masih berlantaikan tanah.

Umat stasi Hariantimur sudah demikian  lama merindukan bangunan  gereja yang layak pakai. Kendati secara ekonomis taraf kehidupan perekonomian umat  pas-pasan, namun mereka dengan semangat selalu menyisihkan sebagian dari hasil pendapatan mereka untuk rencana pembangunan gereja. Hal ini sangat didukung pihak seksi Pembangunan dan tim pastoral Paroki.

Pihak paroki bukanlah pihak yang pertama dalam pengupayaan pengumpulan dana pembangunan ini tetapi umat itu sendiri. Kesatuan umat dalam iman, untuk mengupayakan pembangunan ini merupakan dasar utama pembangunan ini. Dan hal inilah yang selalu ditekankan oleh Seksi Pembangunan Paroki. Hal ini sungguh diterima seluruh umat, sehingga pada Sidang Paripurna DPP Paroki  tahun pastoral 2012 mendukung sebulat hati rencana pembangunan ini dengan tim panitia pembangunan yang dipimpin oleh Betpar Manik.

Setelah lahan dibeli, umat dengan segala kekurangannya tetap rela memberi sumbangan wajib per kepala keluarga serta sumbangan sukarela. Sebagai tanda keseriusan umat dalam rencana pembangunan ini, umat yang miskin ini rela menyepakati sumbangan per kepala rumah tangga Rp 1.000.000.

Namun, pada sidang paripurna Dewan Pastoral Paroki  tahun 2006, stasi ini sudah mengusulkan rencana pembangunan gereja mereka. Akan tetapi karena stasi yang lain jauh lebih siap sesuai dengan  kriteria yang berlaku di Paroki St. Pius X Aekkanopan maka dengan segala kesabaran mereka harus menunggu sambil berupaya memenuhi segala kriteria tersebut di atas.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan melihat segala usaha keseriusan umat stasi ini maka peserta Sidang Paripurna Dewan Pastoral Paroki tahun 2012 memutuskan bahwa stasi St. Paulus Hariantimur mendapat giliran pembangunan gereja untuk tahun 2013. Rencana peletakan batu pertama direncanakan bulan Mei 2013 dengan harapan bahwa dengan bantuan Tuhan melalui kemurahan hati berbagai pihak maka pembangunan dimulai.

Perlahan-lahan  pembangunan berjalan juga. Pihak paroki, rayon Kualuh Hilir, panitia dan umat keseluruhan bergandengan tangan dan menyatukan tekad untuk menyelesaikan pembangunan tersebut walau selalu ada pihak-pihak tertentu dari kalangan umat sendiri yang bersikap miris.

Proses pembangunan gereja baru ini  tak selalu berjalan mulus. Ketika pembangunan gereja sudah sampai tahap 60 %, dana betul-betul sudah kandas. “Kalau diberhentikan untuk sementara waktu akan semakin menambah kerugian karena tukang meninggalkan tempat  dan membawa segala peralatannya,” ujar Bapak Sialagan. Akhirnya untuk menyikapi kesulitan ini, pastor paroki, ekonom paroki  dan seksi pembangunan memanggil, panitia pembangunan dan pengurus gereja stasi untuk rapat pada 2 Mei 2014.

Setelah diadakan perhitungan dalam rapat tersebut maka untuk menutupi utang kepada tukang dan perincian  dana yang harus dicari untuk perampungan bangunan maka panitia harus mengupayakan dana kurang lebih Rp200.000.000. Maka untuk ini perlu pendekatan khusus kepada tukang agar bersabar dengan utang Rp 99.300.000. Tukang pun dengan segala kebaikan dan pengertiannya menerima pendekatan itu dengan ketentuan agar segera setelah pesta pemberkatan dan penggalangan dana untuk pembangunan,  utang dilunasi. Sementara dana untuk perampungan bangunan kurang lebih 99.700.000 harus diupayakan segenap umat dengan meminjamkan duit mereka kepada panitia / stasi.

(dok. Paroki Aek Kanopan) | Pada saat misa pertama setelah pembangunan gereja baru rampung

Akhirnya sambil meneruskan perampungan bangunan, seluruh umat, panitia pihak rayon dan paroki sungguh-sungguh mempersiapakan pesta pemberkatan dan sekaligus penggalangan dana. Maka pesta dan penggalangan dana dirancang untuk dua hari yakni pada 3-4 Agustus 2014.

Pada hari pertama pesta, Minggu (3/8/2014),  Uskup Emeritus Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap memberkati gereja dan setelah pemberkatan dilanjutkan penggalangan dana. Undangan pada hari pertama ini diprioritaskan kepada umat Katolik serayon kualuh dan undangan khusus dari paroki. Sedangkan untuk hari kedua, Senin (4/8/2014) undangan lebih dialamatkan  kepada gereja-gereja tetangga dan pihak-pihak masyarakat, pemerintahan dan pengusaha.

“Sungguh Tuhan berkarya dalam diri umat yang dengan segala pengabdian dan ketulusan hati serta semangat kerja yang tinggi dalam rangka penggalangan dana ini. Dengan kepuasan tersendiri umat bergembira dengan hasil penggalangan dana Rp 127.614.000.  Mengingat kondisi perekonomian umat dan masyarakat sekitar rasa-rasanya jumlah perolehan dana itu merupakan jumlah yang spektakuler,” tutur Pastor Hiasintus.

Rasa syukur dan kegembiraan ini sangat terasa ketika diadakan misa pertama dalam gereja baru pada 14 Agustus 2014. Pada saat ini juga acara istimewa diselenggarakan untuk menghormati tukang dengan gaya adat Batak Toba.  Semoga kegembiraan dan kebersamaan ini semakin subur ke depan hari dan iman umat semakin bertambah demikian pihak rayon, seksi pembangunan paroki dan pastor paroki sendiri memberi pesan bagi umat dalam acara yang sangat istimewa ini.

(Ananta Bangun) | dimuat di Menjemaat edisi Oktober 2014

Sumber tambahan dikutip dari: parokiaekkanopan.blogspot.com

Advertisements

Comments are closed.