Eviani Messy Juliana: TUHAN TELAH MERENCANAKAN JALAN HIDUPKU UNTUK RUMAH-NYA


Copyright: Komsos KAM | Eviani Messy Juliana

Bagi saudara/ i yang kerap mengunjungi Graha Maria Annai Velangkanni, maka wajah Eviani Messy Juliani sudah tidak asing. Berkenaan dengan tugas liputan untuk majalah Menjemaat edisi April 2015, saya pernah menulis kisah pengalaman iman saudari ini.

Tidak pernah terbersit dalam benak saya bahwa tulisan tersebut bakal bersambung di kemudian hari (seusai dicetak). Hingga pada awal bulan April tahun 2017 ini, saat saya dan Istri menyambangi Velangkanni, bersua denga Evi. Kisah iman dan kerinduan bertemu dengan Ibu kandungnya telah terwujud.

Saya kian takjub saat saudari Evi berkata telah menuliskan sendiri sambungan tulisan kisahnya di Menjemaat kemarin (sub judul terakhir dalam artikel ini). Saya usul apakah dia berkenan untuk dimuat di blog saya ini. Tanpa pikir lama, dia menjawab ‘ya.’ Semoga tulisan kisah ini (dengan penceritaan orang pertama) turut menumbuhkan iman dan pengharapan baru. Sebagaimana kedua nilai tersebut hidup dalam diri saudari Evi. Amin.

***

 

Saat masih di usia belia, saya telah ditinggal pergi kedua orangtua. Pengalaman getir itu membuat saya terlunta-lunta. Relung hati saya lama hampa, dan merindukan hangatnya keluarga. Saya lalu menemukannya dengan jalan pengabdian bagi-Nya. Jalan yang tak pernah saya duga dalam liku kehidupan ini. Namun selalu saya syukuri. Mengapa? Berikut penuturan kisah saya.

Pada tanggal 6 September 1990, saya lahir dari pasangan lintas etnis. Ayah (RC) saya adalah etnis India, sementara Ibu (MyL) berasal dari keluarga etnis Tionghoa. Disamping itu, kedua orangtua saya bukanlah penganut Katolik hingga saat ini. Kenyataan tersebut yang kerap membuat saya sadar bahwa rencana-Nya jua yang hadir dalam kehidupan ini. Meskipun pada awalnya hal membuat pengalaman getir.

Sebagai anak tunggal, pada masa itu, sungguh menyenangkan memperoleh kasih sayang orangtua. Hanya saja keindahan tersebut tidak berlangsung lama. Pada saat saya berusia 9 tahun. Ayah pergi meninggalkan saya dan Ibu. Selang beberapa bulan kemudian, Ibu juga turut pergi meninggalkan saya di Medan. Saya hanya ingat dibawa mengunjungi rumah adik Ibu, dan kemudian saya tak pernah lagi melihat raut wajahnya hingga kini.

Saya sendiri tidak lama menumpang di rumah keluarga adik Ibu. Setelah rembug keluarga dari pihak Ayah dan Ibu, mereka akhirnya sepakat menitipkan saya pada Nenek (Rajemal), kakak dari Ibu kandung Ayah saya, dan Kakek (Antonis Siwamani). Dengan terbuka dan rasa senang, mereka menyambut saya laiknya anak sendiri. Dari mereka lah saya mulai mengenal Gereja Katolik. Khususnya Graha Annai Velangkanni.

Semenjak duduk di Sekolah Dasar (SD), saya kerap membantu Nenek membersihkan beranda dan lapangan Velangkanni. Sebab saat itu pegawai di Velangkanni sendiri belum begitu banyak seperti saat ini. Dari kegiatan membantu Nenek, saya pun diperkenalkan pada Pater James Bharataputra, SJ. Tergerak hati oleh pengalaman hidup miris saya, Pater James kemudian menerima saya sebagai bagian baru di keluarga besar pengurus gedung sanctuario ini.

Saat memasuki masa pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya juga dibina menjadi misdinar untuk setiap misa di Graha Annai Velangkanni. Peran ini saya lakukan hingga sekarang (kini saya turut juga melatih calon misdinar baru untuk Velangkanni). Ketika menempuh pendidikan Sekolah Menengah Akhir (SMA), saya pun dipercaya menjaga stand yang menjual pernak-pernik Velangkanni. Termasuk beberapa buku dan Kitab Suci yang dititipkan di stand ini.

 

Hidup Dalam ‘Rumah’ Keluarga Yang Baru

Dalam interaksi sehari-hari, Pater James tiada letih menuntun iman saya lebih dekat dengan Allah. Satu diantaranya adalah nasihat agar saya rajin mendaraskan Doa Novena. Pada awalnya, permohonan saya tidak jauh dari perihal kiranya Nenek Rajemal dan Kakek Antonis dikaruniai kesehatan. Namun entah mengapa, selang beberapa hari setelah tamat dari SMA Dharma Wanita Medan, hati saya gundah tatkala larut dalam Doa Novena.

Saya ingat betul saat itu masih menjalani Novena pada hari ke-III. Tiba-tiba ponsel saya berdering. Tatkala mengamati nomor penelepon, saya heran melihat itu bukan dari operator seluler di Indonesia. Lama terheran-heran, saya lalu menerima telpon tersebut. “Halo, apakah ini dengan Eviani?” Saya terjingkat kaget mendengar suara seorang wanita di seberang sana, yang langsung tahu nama saya. “Iya, benar. Ini dengan siapa ya?” saya balik bertanya.

Tak lama terdengar suara isak tangis. “Nak, kamu tahu ini siapa?” wanita membalas pertanyaan saya dengan pertanyaan. “Maaf, Bu. Saya tidak kenal. Ini dengan siapa ya?” Kembali kami saling membalas tanya. Sesenggukan wanita itu sedikit mereda, sebelum ia menjawab: “Ini Ibu, nak. Ibu kandungmu,” jawabnya dan kembali mengisak.

Hening. Saya terperangah. Setelah sekian lama tidak bertemu, tak pernah terlintas lagi dalam ingatan bagaimana suara ibu kandung sendiri. Kemudian saya menjawab: “Ibu dimana? Kenapa Eviani ditinggal sendiri di sini?”. Namun, ibu tak berbicara banyak selain memohon maaf atas kekhilafannya. Dan juga karena telah menelantarkan saya. “Ibu sekarang kerja di Malaysia, nak. Kamu rajin-rajin belajar ya. Jangan lagi berpaling jika telah memilih jalanmu bersama Gereja. Bersama Tuhan. Jangan seperti Ibu,” demikian Ibu menyampaikan petuah terakhirnya dalam perbincangan kami tersebut. Lama juga kami tersenyap, dan Ibu pun akhirnya pamit melalui ponselnya.

Petuah Ibu mengiang di benak saya. Bahkan ketika pulang dan menceritakan peristiwa tersebut kepada Nenek, saya mengatakan masih belum mengerti benar. Nenek kemudian turut menyampaikan nasihatnya. “Sudahlah, Evi. Ibu dan Ayahmu sudah memilih jalan hidupnya masing-masing. Namun, Allah sendiri telah menyiapkan rencana indah-Nya bagimu. Kini kamu sudah punya keluarga baru, dan jalan baru. Yakni memuliakan Allah di rumah-Nya. Teguhlah dalam pengabdianmu,” kata Nenek.

Mendengar petuah tersebut, tangis saya pun membuncah. Hati saya nelangsa karena dilanda kerinduan bersua orangtua. Namun, saya juga sungguh bersyukur karena rencana Tuhan ternyata semakin jelas saya mengerti. Lamat-lamat saya pun teringat pada Firman-Nya (yang telah lama menjadi ayat kesukaan saya) di Kitab Matius  5:13-15:13 : “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

 

Dok. Pribadi | wisuda didampingi RP James Bharataputra SJ, sebagai orangtua wali

Mewartakan Kemuliaan Tuhan pada Lebih Banyak Insan

Tamat dari SMA Dharma Wanita, saya pun mendaftar ke Universitas Katolik (Unika) St. Thomas Medan di Fakultas Keguruan, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kesengajaan memilih fakultas keguruan ini berlandas impian saya untuk menyebarkan pengetahuan dan ilham kepada lebih banyak insan. Utamanya anak-anak yang hidup di jalan nasib yang sama dengan saya.

Namun, saya sempat ragu memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sebab kemampuan berbahasa Internsional tersebut, kala itu, belum begitu fasih. Namun, Romo Dismas (semasih menjadi Pastor Rekan di Graha Annai Velangkanni) kerap memotivasi saya untuk mengambil jurusan yang berkenaan dengan bahasa Inggris. “Sekarang, mungkin kamu masih belajar dan belum tahu apa manfaatnya. Tapi yakinlah, bila telah mahir berbahasa Inggris maka peluang untuk memperoleh relasi akan lebih luas.” Demikian ia selalu menyampaikan nasihatnya. Sokongan senada juga saya dapati dari Pater James dan keluarga Nenek Rajemal.

Selama beberapa tahun studi di Unika, saya lalu pindah ke Universitas Prima Indonesia terkait urusan teknis. Dan saat ini, saya tengah dipadati kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mengajar di salah satu sekolah swasta di Kota Medan. Sungguh menyita perhatian dan energi, sembari menjalankan peran saya di toko pernak-pernik Graha Annai Velangkanni.

Saya mungkin tidak dapat selalu bersisian dengan orangtua kandung sendiri dalam menjalaninya. Tetapi saya telah dipertemukan dengan keluarga baru yang mengenalkan kasih dan rencana-Nya yang tulus. Ya, dalam relung hati saya Graha Annai Velangkanni juga akan selalu menjadi rumah iman. Rumah yang selalu menginspirasi saya untuk menjadi garam dan terang bagi insan-insan di sekitarku. Tuhan telah merencanakan jalan hidupku untuk rumah-Nya.

 

dok. Pribadi | Bertemu dan Hidup Bersama Ibu kembali

Hati yang Rindu sudah Terobati  Berkat Doa

Suatu sore, saya pergi ke pajus untuk mengecek laptop bermasalah bersama Lina, teman saya. Panggilan dari nomor tak dikenal berdering di ponselku. Karena sampai tiga kali berulang-ulang saya pun memutuskan mengangkatnya. “Hallo. Ini siapa?” tanyaku ingin segera tahu.

“Maaf ini saya dari informasi bandara Kuala Namu Medan,” jawabnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” saya lekas menimpali.

“Ibu kamu saat ini ada di sini, di bandara Kuala Namu ini. Ibu anda meminta agar segera di jemput”.

Sangat keget dan seperti antara rasa percaya dan tidak, saya katakan, “Terimakasih banyak pak, saya akan segera datang.” Saya langsung cegat taxi Blue Bird menuju bandara. Rasa gembira bahkan bercampur sedih dan entah apa lagi, saya bercerita begitu saja dengan supir taksi akan berita telefon itu.

Rasanya Bandara seperti tambah jauh. Aku tak sabar untuk melihat sosok ibuku. Akhirnya kami bertemu dan berpelukkan sangat erat.

Ini ibuku, yang melahirkan aku, yang meninggalkan aku, kini datang untukku, terimakasih Tuhan, kataku dalam hati. Perasaan gembira yang tak terlukiskan. Air mataku pun mengalir. Doa-doaku di Graha Velangkanni pada Bunda Maria, agar bertemu dengan ibuku, akhirnya terjawab.

Dengan seizin pimpinan Graha Maria Annai Velangkanni, Ibuku diperkenankan tinggal bersamaku di Graha ini. Ini rasanya mimpi lain lagi. Hari-hariku bisa bersama Ibu yang sekian lama hilang. Siang malam kami bisa bersama, bercerita sepanjang mungkin. Pekerjaanku dibantunya. Kami memasak bersama, dan banyak hal lainnya. Ini mimpi yang menjadi kenyataan.

Terima kasih Tuhan. Dalam relung hatiku bergema kata bahwa Graha Maria Annai Velangkanni adalah rumah Tuhan. Sang Sumber Rahmat yang selalu memberikan pertolongan dan berkat yang luar biasa bagi hidupku. Dan berkat doa-doa di Graha ini rencana Tuhan yang menakjubkan dan indah terjadi dalam hidupku.

 

Pesan untuk pembaca :

  1. Tetaplah teguh dalam menghadapi masalah yang melanda dalam hidup- Mu
  2. Jadilah orang yang bisa diandalkan dimana pun anda ditempatkan
  3. Jadilah terang dan garam dunia yang selalu siap menerangi dan memuliakan Tuhan
  4. I believe in God always keeping and bless us and your life
  5. You can do it amazing for your life
  6. Selalu andalkan Tuhan dimana pun anda berada
  7. Tersenyumlah selalu jika ada beban yang melanda
  8. Doa adalah sumber kekuatan yang luar biasa dalam relung hidupku.

 

(sebagaimana dikisahkan kepada Ananta Bangun)

Advertisements

Comments are closed.