Resensi buku “Semua Karena Cinta: 25 Tahun Hidup Membiara”


Copyright: Kanisius | Cover dan back cover buku karya Sr. Richarda

Sebuah kisah hidup sering diceritakan secara lisan dari orang ke orang. Seiring waktu, kisah tersebut terdistorsi (berkurang) bagian-bagiannya, entah karena si pencerita terlupa atau tak kronologis atau juga para pendengarnya hanya berminat pada beberapa sisi kisah saja.

Di kalangan klerus (rohaniwan) perjalanan hidup membiara hingga puluhan tahun adalah kisah yang penuh tantangan. Namun di mata para awam ihwal tersebut kerap kasat mata, sebab keseharian mereka tak selalu tampak oleh publik. Beberapa serpihan kisah yang menarik mungkin ada diceritakan bersama kalangan umat. Hanya saja, sebagaimana dilontarkan dalam pembuka di atas, kisah tersebut rawan terdistorsi.

Satu kehormatan bagi saya, memperoleh buku tulisan Sr. Richarda Bangun SFD “Semua Karena Cinta: 25 Tahun Hidup Membiara”. Tidak saja saya dapat menyelami karakter Sr. Richarda namun juga membaca serpihan kisah perjuangan iman-nya yang diabadikan dalam buku ini.

Sebelum teguh masuk di konregasi SFD (Congregatie Zusters Franciscanessen van Dongen atau Suster Fransiskus Dina), Sr. Richarda — yang lahir dengan nama Jenda Pulung br Bangun — terpesona pada sosok Suster yang melayani ke desa kelahirannya di Desa Bunga Baru, kecamatan Tiga Binanga, kabupaten Karo – Sumatera Utara.

Jenda cilik sungguh kagum kelembutan dan keramahan Suster tersebut hingga kemudian bertekad kelak menjadi biarawati juga. Meskipun saat itu di keluarga mereka masih menganut agama Protestan. Menginjak usia remaja dia pun mulai belajar Katolik dengan berani memilih pelajaran agama Katolik di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tiga Binanga.

Pendalaman tersebut kemudian semakin menyulut semangat-nya ketika memutuskan menjadi aspirant sembari mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabanjahe. Agar tak memancing kecurigaan orangtua, Jenda mengatakan melanjut pendidikan dengan tinggal di asrama para suster.

Tantangan demi tantangan hadir untuk mengganjal impian Jenda menjadi seorang Suster sebagaimana dikisahkan dalam buku ini. Uniknya, dalam membaca tantangan yang ditulis secara kronologis oleh Suster Richarda, kita dapat juga mengetahui tahapan menjadi seorang biarawati. Sehingga kita dapat memahami jalan terjal yang dihadapi oleh insan yang mempersiapkan diri menjadi pekerja di ‘ladang Tuhan’.

Kita juga bisa mengetahui bahwa Sr. Richarda phobia hewan pacet. Hingga pengalamannya ketila terpaksa mengaku hamil tiga bulan, serta berbagai kisah kocak, haru dan pergolakan batinnya dalam napaktilas melayani gereja. Saya bisa saja mengisahkannya kepada pembaca sembari menikmati seduhan teh di sore hari, namun tentu saja tiada nuansa yang lebih indah bila saudara/i membacanya di tengah suasana itu.

Last but not least, saya senang bisa memetik pembelajaran berharga dalam buku ini: bersyukur. Di atas segala rajutan aksara yang pernah saya tuntaskan, saya mengucapkan terima kasih kepada Sr. Richarda Bangun SFD. Saya banyak belajar untuk berjuang memupuk cinta pada Allah yang lebih dahulu mencintai saya.

Advertisements

Comments are closed.