Gereja Stasi St. Bonifasius Beras Julu


Copyright: Komsos KAM | (ki-ka): Bastanta Ginting & Pendra Tarigan

Sisa embun masih membasahi halaman Gereja Stasi St. Bonifasius Beras Julu, yang dipenuhi rerumputan, kala Menjemaat menyambangi untuk liputan kolom Pesona Gereja ini. Padahal waktu nyaris menuju tengah hari. Sapaan khas ‘Mejuah-juah’ terlontar dari Ketua Dewan Stasi Beras Julu, Bastanta Ginting dan Sekretaris Stasi Beras Julu, Pendra Jaya Tarigan. Aura gembira terpancar dari wajah mereka.

“Sebenarnya gereja kami masih belum berani benar untuk dimuat di Menjemaat karena masih seperti ini,” ujar Bastanta seraya menghantar masuk ke gereja stasi yang ditopang dinding bambu, atap seng dan lantai semen. “Namun, kami juga senang karena bisa masuk majalah.”

Gereja stasi yang masuk dalam wilayah Paroki St. Fransiskus Assisi Berastagi ini, adalah pemekaran dari Gereja Stasi St. Benediktus Tanjung Barus. “Inisiasi pemekaran Stasi Barus Julu diajukan pada tahun 2009, yang berbarengan dengan periodesasi pengurus di Stasi Tanjung Barus. Pemekaran ini di bawah arahan RP Ignatius Simbolon OFM Cap. Sementara Ketua Panitia Pemekaran adalah seorang vorhanger (masa itu), bapak Samson Barus. Saya sendiri, saat itu, dipercaya menjadi Sekretaris Panitia Pemekaran,” Bastanta menjelaskan.

Dia melanjutkan, pembangunan Gereja Stasi Barus Julu baru dimulai pada tahun 2010. “Proses pembangunan gereja ini sepenuhnya bersumber dari swadaya umat. Sebab pada saat itu, tidak sempat menanti donasi dari luar melalui proposal pembangunan,” ujar bapak berusia 48 tahun yang mengaku bekerja sebagai petani tersebut.

Pendra, turut menimpali, seluruh umat stasi Beras Julu sepakat mengumpulkan Rp1 juta per rumah tangga untuk dana awal pembangunan. “Saat pertama sekali mekar, di stasi kami ada 60 Kepala Keluarga). Karenanya, kami dapat mengumpulkan dana Rp60 juta. Sebagian besar digunakan untuk membeli tapak lahan gereja, dan sisanya untuk membeli bahan bangunan walaupun tidak semuanya. Bambu yang digunakan untuk dinding dan kursi di gereja, kami tebang dan berdayakan dari rumpun bambu dekat Deleng Barus di sana,” katanya seraya menunjuk rumpun bambu di bawah kaki Gunung Barus yang terletak tak jauh di belakang gereja stasi Barus Julu.

Copyright: Komsos KAM | Bagian interior Gereja Stasi Beras Julu

Dipersatukan dan Dicukupkan

Sebelum teguh menempati lahan di depan Sekolah Dasar swasta Advent Barus Julu, Gereja Stasi Beras Julu sempat hendak dipancangkan di lahan dekat simpang Tanjung Barus. “Pastor Leo Joosten, OFM Cap kemudian memberi masukan agar dipindahkan saja. Sebab, lokasi pertama itu terlalu dekat dengan Gereja Stasi Tanjung Barus,” terang Bastanta. “Kami kemudian mencari lokasi lain dan seorang umat kita berkenan menjual ladangnya yang berdekatan dengan jalan utama Barus Jahe.”

Bastanta dan seluruh umat Stasi Barus Julu kerap merasa heran dan terberkati dalam upaya pembangunan gereja ini. “Kalau melihat kas dan kemampuan perekonomian umat, sungguh mustahil bisa membangun gereja kami. Ternyata Tuhan lah yang lebih banyak bekerja dalam hal ini. Kami sungguh merasa dipersatukan dan dicukupkan selalu,” dia mengenang.“Ketika kami memperhatikan bahwa dana pembelian semen untuk lantai gereja tidak cukup, tiba-tiba kami mendapat sumbangan berupa bon tanpa nama. Di situ tertera marga Sembiring saja, dan dituliskan untuk menebus beberapa zak semen di panglong dekat desa kami. Begitupun saat kami kekurangan dana untuk bahan kursi, kami memperoleh sumbangan beberapa lembar papan kayu.”

Pendra mengatakan, kemurahan Tuhan juga dirasakan umat di kala mereka memperoleh sumbangan salib dan lampu penerang. “Gereja stasi ini sempat lama tidak memiliki salib dan lampu penerang jalan. Sehingga orang-orang yang melintasi jalan Barus Jahe kerap mengira ini adalah gudang hasil pertanian.”

Setelah rampung dibangun menjelang akhir tahun 2010, RP Evangelis Pardede OFM Cap memberkati bangunan Gereja Stasi Barus Julu. “Bersama Pastor Paroki, pengurus Gereja Stasi Barus Julu dan Tanjung Barus memetakan wilayah masing-masing. Umat juga diperkenankan memilih gereja stasi-nya. Kini jumlah umat stasi kami telah bertambah hingga 80 KK, dan tetap dalam tiga lingkungan yakni: Lingkungan St. Josep, Lingkungan St. Paulus dan Lingkungan St. Fransiskus,” ujar Bastanta.

“Pengurus juga membeli tambahan luas lahan Gereja Stasi Beras Julu selebar 5 meter,” katanya. “Dulunya, luas lahan gereja kami hanya sekira 5×35 meter. Kebijakan tersebut dilakukan untuk rencana pembangunan gedung permanen untuk gereja ini.”

Kondisi bangunan gereja stasi saat ini, imbuh Bastanta, kadang menyurutkan keinginan umat untuk menggunakannya dalam pemberkatan pernikahan. “Karenanya kami pun kerap menyiasati dengan memasang tenda jika ada umat stasi yang melangsungkan pemberkatan pernikahan di gereja ini. Dulu beberapa umat stasi ini meminta untuk melangsungkan pemberkatan pernikahan di Paroki Berastagi, namun Pastor Paroki berkata tidak ada bedanya gedung gereja paroki dan stasi. Ini agar ucapan syukur dari keluarga pengantin dapat diberdayakan untuk pembangunan gereja stasi.”

Pendra mengatakan, Pastor Leo Joosten sering memuji inilah gereja keluarga Nazaret, dan menyampaikan agar pengurus Stasi Beras Julu tak terburu-buru merenovasi gereja agar tak membebani umat. Di samping arahan dari Pastor bahwa permohonan proposal pembangunan gereja di Paroki Brastagi diberikan untuk satu gereja stasi per tahun nya.

Meskipun demikian, Bastanta dan Pendra mengatakan bahwa pengurus Stasi Beras Julu telah merencanakan untuk membentuk panitia pembangunan renovasi gereja Stasi Beras pada tahun 2017 mendatang.

“Harapan kami ke depannya, pada tahun 2017 mendatang kami sudah siap untuk membentuk panitia renovasi gereja stasi. Kami sengaja menundanya tahun 2016 ini, seturut arahan Pastor Paroki RP Liberius Sihombing OFM Cap agar permohonan pembangunan gereja dilaksanakan satu gereja untuk satu tahun,” katanya. “Kami sudah mengalami mukjizat Tuhan bekerja dalam semangat pembangunan gereja Stasi Beras Julu. Dan rahmat itu tetap mengalir bila yakin serta bersatu teguh untuk membangun rumah-Nya.”

(Teks & Foto: Ananta Bangun) | dimuat di Menjemaat edisi Desember 2016

Advertisements

Comments are closed.