Semua Bisa Mewartakan Gereja Melalui Tulisan


img_4164
Founder Indonesia Menulis, Budi Sutedjo (Copyright: Komsos KAM)

“Seandainya para penulis alkitab malas (menulis), apa yang akan terjadi pada kita kini?”

Sebuah tanya, mengandung guyon, dilontar Budi Sutedjo, Rabu (13/8), kepada LenteraNews dalam perjalanan menuju Cinta Alam, kabupaten Deli Serdang. Tempat yang jamak digunakan sebagai rumah retret tersebut, dalam satu kesempatan, memfasilitasi Semiloka Umat Menulis. Pelatihan mahir menulis tersebut adalah gebrakan utama dari Indonesia Menulis. Budi Sutedjo merupakan penggagas gerakan lihai literasi nasional ini.

Budi — yang memperkenalkan jati diri sebagai penulis produktif — kembali melontarkan pertanyaan senada kepada peserta semiloka tri-hari (14 – 16 Agustus 2014). “Mungkin kita tidak akan menjadi penganut Kristen saat ini,” Budi menjawab sendiri pertanyaan itu. Namun, dia menyiratkan betapa penting peran karya tulis dalam pewartaan agama dan menyebar pengetahuan.

Suami dari Maria Herjani mengisahkan, awal mengenal dunia penulisan tidak berjalan romantis seperti saat kini. “Kala itu, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta tempat saya bekerja, meminta karya tulis sebagai syarat diterima sebagai dosen tetap,” ujarnya. “Saya merasa dilema. Pada satu sisi, saya tidak akrab membuat karya tulis. Namun, di lain sisi, saya sangat berminat menekuni profesi akademisi di UKDW. Sebagaimana meneladani semangat nama baptis saya, Albertus. Seorang santo pelindung kaum ilmiawan dan mahasiswa.”

Dia lalu nekat mengirim karya tulisnya ke salah satu harian di Yogyakarta. Berkat bantuan seorang teman, karya tulisnya diterima oleh redaksi. “Tak berselang lama, tulisan saya dikembalikan disertai koreksi dari Redaktur. Dan saya dapati tidak ada bagian yang tidak diberi tanda salah,” aku Budi disambut gelak tawa peserta semiloka. “Tapi pengalaman itu justru memacu semangat saya. Ternyata saya bisa juga menulis. Penulis tidak harus berbakat.”

Budi tidak hanya memetik pengalaman ditolak sebagai ilham membuat karya tulis berikutnya; namun menempatkannya sebagai energi bertenaga turbo. Secara berturut-turut dia menghasilkan 1.312 artikel, 141 buku, 746 berita dan menyunting 71 buku. Bahkan, melalui lokarkarya Indonesia Menulis, tangan dinginnya juga memotivasi 919 penulis. Melalui mega karya tersebut, pengajar di UKDW ini diganjar rekor nasional dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Budi dicatat oleh MURI atas rekor penulis pada 84 media, dengan materi 145 bidang ilmu yang diterbitkan dengan menggunakan 18 inisial. Usai menerima penghargaan itu, dia lalu menyemat ‘Penulis Produktif’ pada jati dirinya.

budi-sutedjo-kanan-bersama-maria-herjani-kiri-saat-disematkan-ulos-seusai-semiloka-umat-menulis-di-cinta-alam
Ibu Maria dan bapa Budi diulosi seusai Semiloka Menulis di PPS Cinta Alam | 14-16 Agustus 2014

Hayuk Mewarta dari Karya Tulis

Tidak hanya di kalangan umat, para klerus juga menghadapi kendala serupa bila dimintakan karya tulis. Menurut Budi, media penulisan kerap dipandang sebelah mata dalam pewartaan ajaran Gereja. “Padahal justru media tulisan memiliki pengaruh besar dalam interaksi Gereja. Ihwal ini juga menjadi perhatian Vatikan melalui­ Inter­ Mirifica­ atau­ Derkrittetang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial adalah salah satu Dekrit dari Konsili Vatikan II,” terang Budi.

Dia menambahkan, karya tulis juga lebih mudah mempengaruhi sesama insan tanpa harus bertatap wajah maupun bersentuhan. “Disamping daya tahan dan jangkauannya,” katanya. Hal inilah yang memudahkan tersebarnya ajaran Gereja hingga seluruh dunia.

Lalu, mengapa menulis terasa sulit? Dalam pengamatan Budi, ganjalan paling sering terjadi adalah keinginan untuk menulis dan mengedit secara bersamaan. “Ketika masih menulis permulaan saja, secara spontan mengkritisi tulisan yang dibuat. Semisal, kurang menarik lah, kurang jelas lah ataupun takut tulisan tersebut mendapat teguran.”

Kesalahan senada juga menular pada pemikiran untuk menulis buku. Ada ketakutan bahwa menulis buku teramat berat dan menuntut materi yang besar. “Inilah yang mendorong gerakan Indonesia Menulis. Bila menulis buku secara perseorangan cukup sulit, maka dapat diwujudkan dengan menulis kolektif,” kata Budi. “Lagipula beberapa penerbit juga menyediakan pilihan menanggung semua biaya penyuntingan, pencetakan dan pemasaran buku kita. Mungkin tidak dibarengi honor setimpal. Namun, saya kira itu bukan masalah. Yang penting buku kita terbit!”

 

Ditulis untuk majalah online Lentera (www.majalahlentera.com)

Advertisements

Comments are closed.